Berdasarkan letak geografis yang berada di tengah lautan, Provinsi Bangka Belitung (Babel) merupakan wilayah yang rawan bencana alam seperti banjir dan angin puting beliung. Hal ini dijelaskan Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Pengurangan Beban Bencana (mitigasi) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Babel, Suryadi, Rabu (13/7) kemarin.
Di sela rapat Kegiatan Peningkatan Kapasitas Aparatur dalam Usaha Pengurangan Resiko Bencana, Suryadi mengemukakan untuk mengantisipasi resiko bencana di wilayah Babel, terutama penanggulangan bencana banjir dan bencana lain yang tidak bisa diprediksi, BPBD Babel menggelar rapat persiapan berbentuk sosialisasi penanganan pengurangan resiko bencana terutama di daerah.
“Berdasarkan hasil dari badan mitigasi kami, banjir dan puting beliung merupakan bencana yang paling dominan terjadi di wilayah Babel. Khususnya di wilayah Pangkalpinang, Kecamatan Rangkui dan Taman Sari yang saat ini sering kami temukan terjadinya banjir, apalagi saat memasuki musim penghujan,” jelasnya.
Kegiatan sosialisasi melibatkan 61 orang peserta, terdiri dari pejabat eselon IV provinsi Bangka Belitung, Dinas Kesehatan (Dinkes) Babel, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), TAGANA dan unsur masyarakat.
“Acara ini dimulai dari tanggal 12 untuk registrasi peserta, 13 hingga 14 Juli 2011 untuk pelaksanaan sosialisasi,” tuturnya.
Dibutuhkan personil yang cukup untuk menanggulangi bencana. Untuk itu, BPBD akan menambah jumlah personil guna mengantisipasi kekurangan tersebut.
“Sebenarnya dari segi jumlah aparatur BNPB Babel belum cukup maksimal. Untuk mengantisipasinya kita merekrut dari Dinas Sosial (Dinsos), Basarnas, dan para relawan dari Taruna Siaga Bencana (TAGANA),” ungkap Suryadi.
Dia menambahkan, "Untuk mengantisipasi kekurangan aparatur, ke depan kita akan membentuk tim Reaksi Cepat Tanggap (TRCT) penanggulangan bencana, yang saat ini sedang diajukan kepada kepala BPBD Provinsi Bangka Belitung,".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar